The Trip to Jakarta and Bandung (Part 4b of 4)
March 3, 2009 by maxim84
Bagian terakhir dari ceritaku ini kembali mengambil setting ke Bandung.
“Huh? Tapi Dennis… bukankah kamu barusan dari Bandung lantas pulang ke Jakarta? Bukankah kamu seharusnya dari Jakarta lalu pulang lagi ke Solo… bukannya ke Bandung?”
Seharusnya memang begitu, tetapi gw teringat bahwa ada satu janjiku untuk bertemu dengan seorang teman yang sudah terlalu lama tertunda.
Gadis itu bernama Lita. Selama di Beijing, dialah teman terdekat gw yang berasal dari Indonesia. Ketika aku terakhir meninggalkan Beijing, Lita is the last familiar face that I see. Kita makan malam bersama di Tour Le Jours, lantas aku mengantar Lita ke apartemennya sebelum kita berpisah.
That was nearly six months ago. (Gosh, sudah selama itu ya gw terhempas di Solo?)
Ketika gw sampai di Bandung dengan teman-teman gw, yang pertama gw lakukan adalah menghubungi Lita. Gw berusaha mencari tahu jadwalnya, dan berharap gw bisa mencari sela untuk memisahkan diri dari para Lembeiers dan menemuinya. Ternyata, jadwalku yang begitu ketat membuatku tidak bisa menemui Lita.
(Buat Lita: Itulah kenapa gw ‘berbohong’ dan mengatakan gw tidak di Bandung. Gw sebenarnya ada di Bandung. Tapi gw merasa benar-benar tidak sopan buat gw untuk berada di kotamu, dan tidak menemuimu, so I better say gw tidak berada di Bandung… there, now you have the real truth)
Anyway, setelah gw merasa urusan gw di Jakarta sudah beres, gw pun meluncur ke Bandung. Kebetulan bibi gw tinggal di Bandung sehingga gw tidak perlu pusing mengenai masalah penginapan dan tetek bengek lainnya. Selama bertamasya ini, gw memang free dari kerjaan - tapi tidak demikian dengan Lita.
Ketika gw menelepon Lita dan mengatakan gw sudah di Bandung, kita langsung membuat janji acara bertemu setelah les Mandarinnya berakhir jam 8 malam di Mal Istana Plaza. Beberapa saat kemudian, Lita kembali meneleponku dan mengatakan kalau ia membatalkan les Mandarinnya (thanks Lita ^^) dan memintaku untuk langsung menuju ke Paris Van Java Mall untuk bertemu di sana seusai ia pulang kerja.
And Lita tak tampak berbeda seperti dia enam bulan yang lalu.
Ketika bertemu lagi dengan Lita, gw seakan terlempar di masa-masa gw di Beijing. Percaya atau tidak, gw akan mengatakan gw sedikit kangen bersama dengan orang yang bisa gw ajak berbicara bahasa Mandarin dengan bebas. Di Solo, mustahil gw bisa berbicara dengan siapapun selain dengan nenek dan guru les gw. Sementara kalau di Jakarta, gw selalu merasa bahwa level Iin dan Felly jauh - jauh di atas gw… (anggap saja ini sebuah teacher-student complex) sehingga gw ga pernah pede untuk ngobrol dengan mereka.
Lita berbeda. Gw sekelas dengan dia (walaupun dia jauh - jauh lebih pintar dari gw, Lita di kelas D adalah satu-satunya anak Indonesia yang bisa masuk dalam posisi 5 besar di tengah anak Korea Jepang, juga gadis yang tanpa mempersiapkan ujian HSK bisa mendapatkan nilai 7) dan itu membuat gw nyaman ngobrol dengan dia. Bahkan seperti pengakuan Lita yang mengejutkan gw “wo haoxiang mei you gen ni yong yinniyu shuo hua” (aku sepertinya ga pernah menggunakan bahasa Indonesia ngobrol dengan kamu). Itu juga yang menjadikan Lita klop denganku saat di Beijing. Walaupun kita berdua orang Indonesia, tapi jarang kita hendak menggunakan bahasa Indo buat ngobrol, tetapi kita berdua saling memacu diri memakai bahasa Mandarin.
Setelah makan malam kita yang lezat di Pancake House, kita mengobrol. Just like that. Kita duduk berdua dan mengobrolkan berbagai macam hal yang tak pernah kesampaian melalui tukar-menukar sms kita. Mengenai pekerjaan, rencana masa depan, sampai teman-teman lama kita di Beijing sana (baik yang sudah lost contact, maupun yang masih contact).
Satu hal yang gw nikmati ketika bersama dengan Lita adalah ia adalah gadis yang bisa gw ajak untuk mengenang waktu ketika aku ada di Beijing. Dia membawa gw ke sebuah swalayan internasional dan menunjukkan padaku beberapa mi instan dari Korea. Melihatku memaksa diri untuk tidak membelinya (karena mi instan Korea itu mahal loh kalau diimpor ke Indonesia. bisa mencapai hampir 10.000 satu bungkusnya), ia malahan membeli hampir 10 bungkus buat dirinya sendiri.
Malam sudah larut ketika kita berdua memutuskan duduk-duduk di depan kafe J.Co. Ketika lagi mengobrolkan nama Mandarin teman-teman kita… (gw lupa nama Mandarin mereka - ingatnya nama Korea mereka) gw ironisnya lupa dengan nama Chinesenya Lita (To Lita: Pssstt… lu ga pernah kasih tahu gw nama Chinese lu!). Geram dengan lupanya gw akan fakta penting tersebut, Lita pun ‘menghukum’ gw dengan menyuruh gw berdiri di tempat dan berputar tiga kali. Well, kendati terlihat seperti tolol karena berputar di depan meja J.Co (untungnya menurut Lita “xian zai yijing yewan, suoyi ren ren dou huijia le… meiyou ren hui kan ni a”).
Yang lebih gawat, menurut Lita itu cuma hukuman percobaan saja, karena hukuman sesungguhnya bakalan menyusul… Lita menyuruh gw menutup mata tanpa boleh melihat apa yang akan ia lakukan kepada gw berikutnya. Gw pun menutup mata. Jantung gw berdebar kencang menunggu apa yang akan Lita lakukan pada gw… Lita memegang tangan gw… lalu…
“hao de… ni keyi kai ni de yangjing le!” cetusnya.
Gw membuka mata gw dan melihat tas plastik berisi mi instan Korea yang tadinya ia beli terikat manis di tangan gw.
“wo… wo bu neng…” (gw… gw ga bisa…)
“ni bu keyi jujue bieren song gei ni de liwu…” (eits, kamu ga boleh nolak orang lain punya pemberian)
(Dialog intinya begitu, detailnya mungkin keliru)
Gw tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Thanks Lita, that’s really sweet of you” kataku sambil tersenyum - membayangkan kelezatan dari Champong, LaMyon yang akan segera kurasakan saat aku memasak mi tersebut di Solo nanti.
Dan bersamaan dengan perpisahan gw dengan Lita, berakhirlah sudah perjalanan panjang gw ke Jakarta - Bandung - Jakarta (lagi) - Bandung (lagi). Gw ga sempat bertemu dengan semua orang, but it was still really fun. Begitu banyaknya teman gw yang tersebar di kedua kota itu sehingga bahkan waktu seminggu pun terasa kurang bagiku untuk menemui mereka semua. I am looking forward to the day I can go to Jakarta and Bandung again!
wahhh ur friend Lita is definitely a sweet girl!