My Other Family in Beijing
December 3, 2008 by maxim84
Gw ngiseng membaca ulang blog gw begitu gw pulang dari Jakarta. Betapa herannya gw ketika gw menyadari gw sedikit sekali menulis mengenai BICF. Bagi kalian yang heran mengenai apa itu BICF, itu adalah kepanjangan dari Beijing International Christian Fellowship, tetapi gw mengenalnya sebagai keluarga gw di Beijing.
Apabila mau dirunut secara jujur, ketika gw pertama kali tiba di Beijing gw merasa kesepian. Gw ga punya teman sama sekali saat itu, dan gw merasa kalau gw terpisahkan dari teman-teman gw di Jakarta dan Singapore. Kelompok anak Indonesia yang datang bersama dengan gw pun rasanya kurang cocok dengan gw. Tak lama bagi gw untuk merasa terasing dan tersendiri (sebelum nantinya gw mulai berkenalan dengan Ari dan kawan-kawan di kelas B5). Toh, di balik itu semua, gw merasa senang untuk satu fakta bahwa gw tidak perlu lagi ke gereja.
Bukan rahasia buat mereka yang membaca blog gw kalau gw sering ke gereja lebih lantaran ‘terpaksa’ bukannya karena gw benar-benar pengen ke gereja. Dari yang (menurut Sasa) ngejar cewe idaman di gereja, (menurut Felix) mencari makan gratis, sampai yang (menurut nyokap gw) engga enak kalau disangka anak nakal, tujuan gw pergi ke gereja hampir-hampir engga pernah murni. Beijing memberi gw kesempatan baru. Di kota yang gw ga kenal anak Indonya ini, gw pasti engga punya alasan untuk pergi ke gereja. Haleluya for one year free of church life! Haleluya for one year bisa tidur selama Minggu siang!
But Sasa, Novi, dan Icha tidak membiarkan hal itu terjadi begitu saja kepadaku. Menurut mereka “Orang China itu tukang tipu dan kejam-kejam Nis. Kalau manusia seculun lu begini, waduh! Bisa gawat. Mari kita kenalkan pada teman kita Stephanie biar bisa menjaga lu nanti di sana“. Gw sih oke-oke saja sampai ketika percakapan pertama gw dengan Stephanie adalah ajakan dia kepada gw untuk ke gereja. Pikir gw saat itu cuma satu: “CRAP! Here we go again…“. Gw akhirnya menyetujui untuk pergi ke gereja sambil berpikir sekali ini saja karena Stephanie adalah teman dekatnya Novi.
Eh, tak disangka, kepribadian gw yang ga enak menolak ajakan orang berlanjut jadi malapetaka. Gw diajak untuk ikut di persekutuan gereja Hari Minggu, persekutuan kelompok di apartemen Stephanie, dan tidak lama buat gw untuk kembali ‘terpaksa’ aktif di gereja. Masalahnya di BICF adalah ini sebuah gereja yang dibagi dalam negara-negara masing-masing. Indonesia sendiri hanya memiliki sekitar 40 - 50 orang di dalamnya (itupun kalau semua datang, yang benar-benar aktif mungkin hanya sekitar 25 - 30 orang).
Hari demi hari berlalu.
Buat teman yang tahu gw di Jakarta, mungkin tahu gw punya sejuta satu alasan untuk menolak pergi ke gereja; mulai dari tidur, kecapekan, atau ada acara gini-gitu dengan teman-teman gw yang lainnya. Itu saja gereja yang cuma dekat dengan rumah gw dan gw punya mobil. Sekarang bayangkan kalau di Beijing gw harus pergi naik bus hampir selama satu jam (berarti gw harus bangun jam 6, siap jam 7 untuk sampai jam 8 di gereja). Selesai kebaktian pun gw tidak langsung pulang karena terkadang bertugas untuk menjaga bookstore sampai jam 3 siang. Minggu gw bisa dibilang tersita habis di gereja.
Tapi anehnya gw yang semula terus mengeluh dalam hati diam-diam melakoninya dengan senang.
Mungkin karena gw melihat ada ketulusan dari anak-anak lain dalam melakukan hal itu?
Mungkin karena gw menyadari betapa sulitnya bagi orang China yang beragama hendak pergi ke gereja?
Mungkin karena gw bete dengan pemerintahan China yang orang mau ke gereja saja diwajibkan memperlihatkan paspornya? (karena kalau orang China asli tidak diijinkan masuk ke gereja).
Entahlah. Gw tidak tahu.
Yang jelas hari demi hari berlalu dan gw melihat bahwa wajah teman-teman gw di sana sama sekali tidak ada yang mengeluh. Mereka bahkan melakoninya dengan senang-senang saja. Gw melihat Chevi dan Vyan yang asyik bercanda (sekaligus memadu kasih ^^;;), gw melihat Ci San-San dan Irene yang sibuk membahas majalah IKAN, gw melihat Stephanie, Rea, Ko Andri yang kompak menjaga bookstore sebagai manager (dengan Enny, Daniel, dan banyak lainnya sebagai manager pendukung) dan gw merasa malu kalau gw sendiri yang mengeluh.
Gw hanya datang setiap Minggu (kadang-kadang pun masih absen kalau ga kuat bangun) tapi mereka mengorbankan jauh dari apa yang kukorbankan. Ko Ernst atau Suryanti misalnya. Betapa seringnya mereka hari Jumat / Sabtu pun mereka korbankan untuk berlatih musik untuk kebaktian hari Minggunya (which means sekali lagi naik bus dari kampus / apartemen mereka ke gereja). Atau Enny yang di hari Kamis untuk melakukan inventori bookstore harus seorang diri angkat-angkat buku-buku yang super berat sepulang kuliahnya. Dan mereka tidak pernah mengeluh. Mereka menjalaninya karena mereka menganggap bahwa BICF milik mereka semua, dan mereka melakukannya buat Tuhan.
Perlahan-lahan, skeptisme dan rasa bete gw terhadap gereja sedikit banyak mencair melihat kelakuan mereka, dan gw membuka diri terhadap mereka. Gw jadi terlibat dalam pelayanan di gereja seperti menjaga bookstore sampai membuat artikel buat majalah rohani IKAN terbitan gereja gw. Kalau gw menemukan diri gw mengeluh gara-gara bangun pagi, gw mengingatkan diri sendiri bahwa bangun pagi ini tidak ada apa-apanya. Setidaknya bukankah di hari Sabtu gw sudah bebas mau bangun jam 1 atau 2 siang sekalipun?
Pernah suatu saat gw mengsms Stephanie dan berterima kasih kepadanya. Gw berkata saat itu bahwa gw bersyukur gw berkenalan dengannya dan diajak masuk ke BICF. Apabila tidak, mungkin hidup gw di Beijing engga akan berwarna seperti yang gw alami. Stephanie membalas bahwa apa yang terjadi saat itu mungkin sudah direncanakan oleh Tuhan. Biasanya gw mencibir mendengarkan kata-kata ‘rencana Tuhan‘ tapi di hari itu gw tersenyum membaca smsnya.
Pada akhirnya, Minggu sore kemarin ketika gw di Jakarta, Stephanie mengadakan sebuah reuni anak-anak BICF yang sekaligus bertujuan merayakan Thanksgiving. Tentu saja gw tidak melewatkan kesempatan ini untuk datang dan bertemu dengan mereka, gw menyadari begitu banyak orang lain juga datang ke sana. Ada Grace, Ko Agus, Ko Andri, Rea, Jean, Heldy, Juju, and many many more. Inilah satu hal lagi yang kusukai dari BICF. Ketika gw selalu puyeng dengan gereja-gereja yang saling menyerang gereja-gereja lain (tahu kan perseteruan “metode penyembahan A ini salah dan keliru” atau “lagu ini terlalu jreng jreng duniawi!” atau “bahasa roh itu engga bener!!!“) dan berakhir dengan gw menjadi antipati sama semua gereja sekalian, BICF menunjukkan bahwa mereka yang datang dari berbagai gereja ternyata bisa berkumpul menjadi satu. Itu tetap terjaga ketika kita pulang ke Indonesia dan ikut dalam gereja kita sebelum ke Beijing, kita masih memiliki identitas sebagai seorang BICFers.
Menjelang penghujung Thanksgiving kecil kita, mendadak kue yang sudah disiapkan Jean didaulat menjadi kue ultah buat gw. Semua orang di sana bernyanyi Happy Birthday untukku (ultahku hampir seminggu sebelumnya) dan mulai menyalakan lilin buatku. I was moved. It was really a great surprise for me.
Kendati banyak orang yang mengenalku lebih sebagai man of science ketimbang man of faith. Let me proclaim it here in my blog: I am proud to be a BICFer. Cheers for a family I found in Beijing. Aku pernah menulis artikel bahwa aku menemukan rasa patriotismeku di negeri China. Aku tidak hanya menemukan itu; I also find my faith back in that atheist country.



