The Dark Past (Part 2a of 3)
September 25, 2008 by maxim84
Part 2: The Dark Night
“The night is darkest before dawn”
- Harvey Dent, The Dark Knight
Ketika gw pertama kali masuk ke SMU. Gw merasa bahwa inilah awal yang baru buat gw. Ada sedikit perasaan sedih di hati gw karena gw akan terpisah dari teman-teman lama gw di SMP… tetapi sebaliknya gw memang ingin meninggalkan SMP yang telah memberikanku begitu banyak kenangan buruk itu. Gw masuk ke SMU dengan sebuah rasa percaya diri yang tinggi. Gw merasa kalau dengan NEM gw, gw bisa melakukan apapun. Memang NEM gw bukan super tinggi (nilai rata-rata gw hanya sekitar 7.5 dan hanya tergolong rata-rata dibandingkan dengan anak-anak lain), tetapi menurut gw saat itu, NEM SMP itu membuktikan bahwa kalau gw berusaha, gw pasti bisa melakukannya…
Gw bertemu dengan teman-teman baru di jaman SMU ini. Yang pertama menjadi gerbangku ke teman-teman lain adalah Christian. Sosok yang duduk di sebelahku ini kemudian mengajakku untuk berkenalan dengan teman-temannya masa SMP dulu. Dari sana, dimulailah perkenalanku dengan Didit, Andrew, dan banyak lagi anak-anak SMP-nya Christian dulu lainnya. Maklum, SMPku dulu termasuk SMP kecil yang hanya memiliki dua kelas… berbeda dengan SMP lain yang rata-rata lebih besar dan memiliki 8 kelas bahkan 10 kelas.
Pasalnya, dari sifat gw yang suka bohong itu, lagi-lagi gw engga bisa mengubahnya. Latar belakangnya begini, di saat NEM SMP gw keluar, nyokap gw sangat senang dengan nilai itu dan membelikan gw sebuah mesin Sony Playstation. Yang tak disangka oleh nyokap gw adalah mata gw ketika itu sudah mengalami minus yang sangat tinggi (7 di saat masuk SMU). Nyokap gw begitu tahu hal itu jelas melarang gw memainkan Playstation gw. Yang tidak nyokap gw mengerti saat itu adalah Playstation adalah bahan pembicaraan favorit setiap teman-teman gw di saat itu. Membicarakan dan mengobrolkan mengenai game RPG selama berjam-jam - apalagi berhasil menyelesaikan game-game RPG yang sulit dan terkenal membuat orang itu bisa mendapatkan pengakuan dari teman-temannya.
Gw yang tidak bisa memainkan PS gw jelas tertinggal dan kesulitan mengikuti pembicaraan teman-teman gw. Walhasil, gw sekali lagi mengeluarkan ‘bakat bohong‘ gw untuk bisa tetap berbincang-bincang dengan mereka. Gw mengecek majalah game, mengobrol dengan banyak orang, membuka situs-situs di internet untuk tahu mengenai masalah game dan bisa membual kepada mereka bahwa ‘aku juga sudah pernah menamatkan game ini lo‘. Perlahan-lahan, apa yang dirasa oleh teman-temanku sebagai hal yang lucu berubah menjadi hal yang menyebalkan. Gw pun mulai dijuluki tukang koya (tukang ngibul) dan dihindari oleh teman-teman gw.
Puncaknya, secara tidak langsung dalam pembicaraan game gw dibenci oleh teman gw. Suatu hari, ketika salah satu teman gw gw ajak ngobrol mengenai game dia engga menjawab pertanyaanku. Ketika gw desak lebih jauh mengenai kenapa dia tidak mau menjawab pertanyaanku, ia berkata kepadaku: “Sori… kita udah janjian ga mau ceritain lagi soal game kepadamu… Soalnya kalau kamu kita ceritain, nanti kamu claim sebagai dirimu sendiri yang menamatkan game itu…”
Hari itu aku pulang sekolah dengan menahan tangis. Ketika gw menangis di kamar gw - nyokap gw masuk dan keheranan melihat gw menangis sehingga menanyakan kepadaku alasan mengapa aku menangis. Aku bertanya kepadanya sambil sesunggukan:
“Ma, walaupun aku dikelilingi oleh orang-orang yang kuanggap sebagai temanku, kenapa aku merasa begitu sendiri?”
Pelarianku ironisnya di saat itu bukan pada bidang pelajaran (bukan makin giat belajar), tetapi pada bidang tulis menulis cerita. Gw mengarang cerita ‘Legend of Edenia‘ bertokoh utamakan gw dengan teman-teman gw. Gw tidak lagi memperhatikan pelajaran tetapi menuliskan cerita petualangan dengan gw sebagai sang tokoh utama. Gw makin gila-gilaan menulis cerita sampai-sampai pernah gw menulis hampir satu buku tulis dalam waktu dua hari! Imbasnya jelas; nilai gw turun dan kacau balau di tahun kedua SMUku.
Gw yang di tahun pertama selalu bertahan di 10 besar, nilainya hancur total di tahun kedua. Nilai total IPA gw hanya mencapai 24 di semester pertama. Padahal nilai total dari satu tahun untuk masuk ke kelas 3IPA adalah 78 (rata-rata 26 tiap caturwulannya). Ditambah lagi hobi menulis gw dianggap ‘aneh‘ oleh kebanyakan orang. Yang tidak banyak diketahui orang adalah gw menulis di saat itu untuk menciptakan sebuah lingkungan di mana gw bisa diterima. Oleh karena itu kisah ‘Legend of Edenia‘ gw selalu memuat karakter-karakter gw dan teman-teman gw. Gw beranggapan bahwa dengan cerita itu, gw menutupi diri dari kenyataan di mana perlahan-lahan gw sudah mulai dikucilkan oleh teman-teman gw, bukannya mengubah diri gw malahan membuat sebuah ilusi di mana gw masih diterima oleh teman-teman gw.
Ketika nyokap gw tahu bahwa menulis cerita adalah hal yang membuat nilai gw jatuh, ia dengan murkanya merobek semua buku tulisan gw itu. Gw menangis mendekapi satu demi satu buku itu. Perasaanku saat itu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Seakan-akan di saat itu ilusi di mana gw diterima oleh teman-temanku dirobek oleh nyokap gw satu demi satu. Yang tersisa dari lima buku yang kutulis hanyalah satu yang kudekapi erat-erat sambil berlinangan air mata. Gw berusaha menulis ulang cerita gw dari dasar lagi, tetapi dasar sial, baru menulis setengah buku pertama, guru Akuntansi gw merebut buku itu dan membaca cerita itu di depan seluruh kelas.
“Dennis menghindari serangan monster itu. Ia lantas membalas serangan monster itu dan menebasnya…”
“BWAHAHAHAHAHAHAHA”
Seluruh kelas menertawakan gw. Dan di saat itu gw rasanya ingin menghilang saja saking malunya.