Who Is Watchman Nee?
November 19, 2006 by maxim84
Sebelum gw menceritakan mengenai kisah Watchman Nee, mungkin ada baiknya gw menceritakan terlebih dahulu bagaimana gw bisa membaca buku ini. Orang yang kenal gw tentunya tahu gw bukanlah seorang yang menghabiskan waktu untuk mengenali seseorang – kalau bukan orang itu sesosok cewek cakep bukan? Terus apa yang bikin gw tertarik dengan satu sosok Watchman Nee?
Semuanya berawal ketika gw di Bandung dan dengan begitu menyedihkannya gw salah memformat komputer gw. Walhasil, komputer gw menjadi sangat tidak aktif karena tidak bisa mendeteksi musik (alias tidak menghasilkan suara) dan tidak bisa tersambung dengan internet. Seakan keadaan tidak cukup buruk, TV di ruangan gw tidak memiliki DVD player sama sekali. Lantas apa yang bisa gw lakukan untuk membunuh waktu?
Bagaimana kalau membeli dan membaca buku?
Dan perhatian gw tertuju pada sebuah buku serial Pahlawan Iman. Saat lagi melihat-lihat, pandangan gw mendadak terfokus pada nama Watchman Nee. Wah, tumben nih. Banyak orang yang mengenal misionaris dari barat, tetapi sedikit sekali yang berasal dari China bukan? Gw jadi penasaran mengenai kehidupan dari seorang Watchman Nee ini. Gw membaca bukunya and… well, gw tersentuh setelah membacanya. Buku ini banyak menjelaskan mengenai kehidupan seorang Watchman Nee beserta pandangan-pandangannya dalam kekristenan. So, karena gw pengen membagikan pengalaman ini dengan banyak orang… why not write in my blog? Siapa tahu akan ada lebih banyak orang yang akan mengalami kebangunan iman kembali karenanya? Well, here goes!
Life of Watchman Nee
Awal mulanya dia bukan bernama Watchman Nee; sosok bernama Henry Nee tidak pernah percaya dengan ajaran kekristenan. Dia mungkin tahu mengenai ajaran kekristenan karena dilahirkan di keluarga Kristen, tetapi kelakuan ibunya: Peace Nee menjadi batu sandungan untuk dia percaya sepenuhnya kepada Yesus Kristus.
Hanya saja suatu hari di usianya yang ketujuhbelas semuanya itu berubah. Sang ibu mendadak tersungguk menangis sembari memohon maaf kepadanya. Henry muda penasaran setengah mati mengenai apa yang bisa mengubah ibunya seperti itu? Apakah memang kekristenan yang dipercayai ibunya bukanlah sekedar kepercayaan mistik yang kosong? Henry memutuskan mencari jawabannya dengan menghadiri kebaktian yang sebelumnya dihadiri oleh sang ibu. Serupa dengan sang ibu, Henry mendapatkan panggilan yang suatu hari nanti ia deskripsikan sebagai “panggilan yang serupa dengan Paulus dulu”. Ia berubah total semenjak hari itu dan mendedikasikan hidupnya kepada Kristus. Namanya pun ia ubah menjadi: Watchman Nee.
Nee muda beruntung karena ia bertemu seorang saudari seiman yang menjaga imannya untuk tetap tumbuh. Figur yang seumur hidupnya akan mempengaruhi kehidupan Watchman Nee itu bernama Margaret Barber. Banyak pola pandang dari Margaret Barber yang diadopsi oleh Nee suatu hari nanti dalam ministrinya. Satu hal yang paling penting yang pernah diajarkan Barber yang kemudian menjadi semboyan Nee nantinya adalah prinsip “Tidak ada yang kuingini bagi diriku sendiri; Aku menginginkan segalanya bagi Tuhan”.
Nee berbeda dengan kebanyakan misionaris yang ada saat itu. Ia seperti Martin Luther yang makin merasakan bahwa gereja yang ada di jamannya terkungkung oleh tradisi-tradisi yang mengikat. Tradisi-tradisi inilah yang membuat gereja menjadi tidak bisa mengikuti kemurnian seperti yang telah dicanangkan Alkitab. Beberapa protes penting yang dilancarkan oleh Nee adalah pada proses baptis (di mana Nee tidak setuju pada proses baptis percik) dan konsep perjamuan kudus. Inilah salinan perdebatan yang luar biasa itu.
“Jika firman Tuhan menyatakan sesuatu yang berbeda dengan tradisi gereja mana yang harus aku taati?”
“Bisakah kau memberi saya satu contoh?”
“Ya, mari kita pikirkan tentang Perjamuan Kudus. Alkitab berkata dalam Kisah Para Rasul 20:7 bahwa orang-orang percaya memecahkan roti bersama-sama pada hari pertama tiap minggu. Dan Kisah Para Rasul 2 menunjukkan bahwa mungkin perjamuan kudus dilakukan setiap hari. Mengapa gereja kita hanya mengadakan Perjamuan Kudus tiga bulan sekali dan hanya para pendeta yang telah ditahbiskan yang berhak melayani perjamuan kudus tersebut?”
“Yah… karena itu sudah menjadi kebiasaan kita selama bertahun-tahun”
“Tapi dari mana asal kebiasaan itu Pak? Apakah itu alkitabiah?”
“Mungkin tidak, Nee. Tetapi para pemimpin gereja kita telah mengumpulkan kebijaksanaan dan membuat semua keputusan ini”
“Tapi pak, apakah kebijakasanaan itu mereka dapatkan dari firman Tuhan?”
“Anak muda, legalismemu bisa-bisa menjatuhkan dirimu. Aku kuatir memikirkan apa yang akan terjadi padamu bila kau terus-menerus mempermasalakan hal ini”
“Dengan segala hormat Pak. Aku kuatir apa yang akan terjadi padaku jika aku tidak menaati firman Tuhan”
Suatu hari nanti, Nee akan juga menentang sistem denominasi dalam gereja yang cenderung kolot dan malah memecah belah gereja semakin jauh lagi. Sungguh disayangkan bahwa karena sedikit ketidakcermatannya gerakan Nee akan dikenal sebagai gerakan Little Flock suatu hari nanti (karena pengikutnya kebanyakan menggunakan nama ini, sebuah hal yang disesali oleh Nee yang menekankan konsep non-denominasi).
Watchman Nee juga pernah mengalami keajaiban penyembuhan diri yang ajaib. Saat ia telah didiagnosis TBC dan dianggap tidak memiliki harapan hidup lagi oleh dokter, dia bukannya merasa menyerah begitu saja. Kobaran api semangat dalam diri Nee tidak pernah padam dan makin hebat saja. Di tengah sakitnya yang hebat ia justru berhasil menyelesaikan buku pertamanya yang berjudul: Manusia Rohani (Spiritual Man). Buku yang terpisah dalam empat volume ini selesai dan Nee merasa bahwa ia siap menyerahkan nyawanya kepada Kristus. Itu tidak terjadi. Dengan sebuah pengalaman yang ajaib, Watchman Nee disembuhkan oleh Kristus pada sebuah malam. Ia kembali memberitakan firman Tuhan dengan penuh semangat lagi.
Buku karya yang saya catat sebagai hal kedua yang monumental adalah Kehidupan Kristen Yang Normal (The Normal Christian Life). Buku ini menjelaskan bahwa kita sebagai manusia begitu menerima Kristus, berarti kita sudah turut mati dan turut hidup kembali bersama Kristus. Begitu ia diwahyukan mengenai hal itu, Nee langsung berseru dengan lantang dan gembira sebagai berikut: “OH! Sangat nyata bagiku! Rasanya ingin aku teriakkan penemuanku itu ke seluruh jalanan di Shanghai. Sejak hari itu, tidak pernah sedetikpun aku meragukan ketegasan perkataan ini: “AKU TELAH DISALIBKAN DENGAN KRISTUS; NAMUN AKU HIDUP, TETAPI BUKAN LAGI AKU SENDIRI YANG HIDUP, MELAINKAN KRISTUS YANG HIDUP DI DALAM AKU”.
Oleh karena itu jelaslah bagi Nee bahwa surga bukanlah tujuan kita. Surga adalah asal kita. Dunia bukan lagi menjadi asal kita. Tempat kita di dunia ini hanyalah sementara dan fana. Oleh karena itu sudah sepatutnya kita tidak mengikatkan diri kita kepada dunia yang fana ini.
Ada satu lagi ajakan Nee yang membuatku merasa tersentuh ketika ia mengajak orang untuk mengabarkan injil. Menurut Nee: orang percaya adalah saluran air hidup. Tetapi saluran air hidup kita itu harus punya dua ujung yang sama-sama terbuka. Satunya lagi adalah untuk menerima ajaran Roh Kudus, dan di ujung satunya lagi adalah untuk manusia (atau memberitakan Injil). Tidak ada bagusnya memiliki salah satu saluran yang mampet. Nee bahkan mengambil sebuah perumpamaan yang begitu indah. Begitu indahnya aku harus menuliskannya di sini:
Semua orang merasa menyerah dalam menginjili Komandan Deeds. Gimana engga menyerah coba? Kalau orang datang baik-baik mau mengabari Injil malah diancam dan ditodong pistol segala! Nyali siapa coba yang engga kecut ketakutan kalau dibegitukan?
Sekarang ada pemuda bernama Todd. Todd ini seorang pemuda berandalan tetapi baru saja membuka dan mengubah hatinya untuk Yesus. Todd yang masih baru di kota itu kemudian mendengar kisah mengenai Komandan Deeds yang pemarah itu. Tanpa peduli, Todd langsung mendatangi rumah Komandan Deeds dan menginjilinya.
Komandan Deeds mengancam menembak Todd yang keras kepala, tetapi Todd tidak gentar. Ia takut, tetapi ia mengatakan kepada Komandan Deeds untuk setidaknya membiarkan ia mendoakannya sebelum Deeds melubangi kepalanya dengan peluru. Komandan Deeds menjatuhkan pistolnya, menangis tersungguk dan bertobat. Apa kata-kata dari Komandan ini kepada Todd? “Seumur hidup aku telah mendengar tentang Injil. Tetapi baru hari ini pertama kalinya aku melihat Injil itu”.
Whoa, where did he got such a good story?!
Anyway, fase berikutnya dalam kehidupan Nee adalah bertemu kembali dengan Charity Chang. Charity adalah seorang gadis cinta masa mudanya yang tak pernah kesampaian dahulu. Charity dulunya adalah anak yang mempesona di hati Nee karena watak dan parasnya, sayang imannya yang masih suam-suam kuku itulah yang membuat Charity tidak pernah bisa bersatu dengan Nee. Ah, tetapi memang Allah luar biasa. Beberapa tahun berselang, Charity kembali hadir di dalam kehidupan Nee, dan kali ini ia sudah memiliki segala yang diharapkan oleh Nee sebagai pendampingnya.
Seorang gadis yang (masih saja) cantik, independen serta menyayangi Nee, dan tentu saja mengasihi Tuhan sebagaimana Nee mengasihi Tuhan.
Ketika itulah Cina usai Perang Dunia II mulai bergolak karena komunis makin menguasai negeri ini. Akhirnya Nee meminta kepada para sahabatnya untuk berpindah ke mana-mana dan terus menyebarkan Injil. Witness Lee ia minta untuk menggembalakan Taiwan, Faithful Luke ke Singapura, Simon Meek ke Manila, dan Charity ke Hong Kong. Watchman Nee sendiri memutuskan untuk bertahan di China tanpa peduli apapun yang terjadi. Debatan dari Witness Lee yang memohonnya untuk ikut ke Taiwan bersama tidak digubris olehnya karena Nee merasa bahwa jemaatnya akan memerlukan dia dalam menghadapi penganiyaan serta masa-masa berat yang akan datang.
Inilah petikan dari khotbah terakhirnya. Khotbah yang ia lakukan sebelum akhirnya ia dijebloskan ke penjara sampai pada masa akhir hidupnya:
“Renungkanlah mukjizat mengenai lima roti dan dua ikan. Intinya bukan kuantitas materi yang ada, melainkan berkat yang ada padanya. Cepat atau lambat kita harus mengakui bahwa yang penting bukan jumlah kekayaan atau jumlah pemberian kita. Hanya oleh berkat Tuhan semata manusa memperoleh makanan. Suatu saat kita akan menyadari bahwa kekayaan, kekuasaan, kerja keras, dan kesetiaan kita tidak ada artinya. Banyak orang pengharapannya masih belum terpusat kepada berkat dari Tuhan, melainkan pada beberapa ketul roti yang mereka miliki. Amat sedikit yang kita miliki, tetapi mukjizat Tuhan itu limpah, dan ada di luar perhitungan kita”
Dan dengan itu Watchman Nee dijebloskan ke penjara.
Mungkin bagian yang membuat saya menangis bukanlah saat-saat menyakitkan Watchman Nee di penjara, tetapi pada hal-hal lainnya lagi. Charity sang istri tanpa sepengetahuan Nee dijebloskan juga ke penjara tetapi dilepas pada tahun 1967, beberapa tahun lebih awal dari Nee. Yang membuat saya menangis adalah ketika beberapa bulan sebelum waktu pembebasan Nee, Charity sang istri meninggal dunia.
Oh, betapa saya mengharapkan bahwa sepasang suami-istri yang saling mengasihi ini bisa saling bertemu kembali setelah dipisahkan selama 20 tahun lamanya. Tetapi Nee sendiri walau merasa sangat – sangat sedih tetap mengabarkan Injil. Ia bahkan berhasil menobatkan seorang kepala sipir penjara di sana. Kepala sipir itu begitu terkesan dengan Nee yang tetap menyanyikan lagu-lagu kudus kendati disiksa setiap harinya. Terlihat jelas bahwa Nee tidak menganggap bahwa penangkapannya itu sebagai sebuah hukuman melainkan kesempatan untuk terus mengabarkan Injil.
Setelah masa hukumannya setelah 20 tahun berakhir, Nee urung dibebaskan dan terus dikurung di sana sampai pada masa akhir hidupnya beberapa bulan kemudian. Tetapi apakah Nee melupakan imannya kepada Tuhan? Sama sekali tidak. Suratnya kepada sang kakak menyebutkan kalau ia senantiasa bersukacita. Dan saya pun tersenyum, tentunya Nee akan bertemu kembali dengan istri terkasihnya di tempat penantian sana.
Disebutkan oleh pengarang buku ini bahwa “… sampai saat ini sekalipun tidak ada orang Kristen lain di China yang lebih kuat mempengaruhi kehidupan orang-orang percaya di Amerika Serikat yang berusaha untuk tetap setia.”
Bagi mereka yang menginginkan untuk mengenal Watchman Nee secara lebih mendalam baik dalam pribadi maupun ajaran-ajarannya bisa mencoba membaca buku-bukunya yang berjudul:
- Changed into His Likeness (Diubahkan menjadi Serupa denganNya)
- A Living Sacrifice (Persembahan Yang Hidup)
- The Normal Christian Life (Kehidupan Kristen Yang Normal)
- Spiritual Man (Manusia Rohani)
Tentu saja itu belum semua buku-buku dari Watchman Nee, masih ada banyaaaaakkk lagi. Cari saja.
Apakah itu berarti gerakan Watchman Nee berhenti sampai di sana? Sama sekali tidak. Kendati Watchman Nee sudah meninggal dunia, ide dan filosofinya terus dimantapkan oleh para saudara-saudarinya (Witness Lee, Faithful Luke, Simon Meek adalah segelintir orang yang terus membawakan visi dari Watchman Nee). Sampai sekarang gerakan ministrinya terus ada dan berkembang meliputi seluruh dunia, seperti gerakan arus hayat… a living stream ministry.
Semoga semua orang yang membaca artikel ini bisa semakin mengenal Watchman Nee, meneladani imannya, dan mendapatkan manfaat. Saya secara pribadi sangat tersentuh akan buku yang saya baca ini. Saya rekomendasikan biografi ini kepada semua orang!
Brother or sister..
aku pun membaca buku2 watchman nee dan witness lee…
dan memang sesuatu yg sgt berbeda kutemukan di dlm sosok Allah itu sendiri, bahwa aku dipanggil bukan hanya untuk diberkati tetapi juga menderita, dan setiap penghinaan akan Kristus yg ditujukan kpdku..kuanggap sebagai kekayaan..
Jesus Bless U…
I can’t agree more Harold… I can’t agree more…
and JBU 2..
saya sgt diberkati sekali oleh kata-kata dr saudara
aku memiliki bnyak buku karangan watchman nee.mbca kisahnya yg sgt brgantung penuh pd Tuhan dlm mghadapi mslah.khidupan nya mbri smgat supaya aku lbh sngguh2 mgshi Tuhan n jgn brsungut2.
Biarkan Tuhan menduduki kehidupan kita dan biarkan Tuhan bertahta di hidup kita selamanya……amien
ini kata2 yg mgkn byk org blm jalanin….termasuk gw.
Tidak ada yang kuingini bagi diriku sendiri; Aku menginginkan segalanya bagi Tuhan”.
Sodara ato Sodari . . .
Saya juga penikmat buku2 dari sodara Watchman Nee dan Witness lee . . .
Ada banyak tulisan2 dari 2 sodara trsbt seperti tentang Salib pengampunan dosa, Hayat, Roh, dll tapi sebenarnya pada intinya mereka di lahirkan untuk pemulihan Gereja, inti dari tulisan2 mereka ialah berujung tentang Gereja yg Normal, tentang pemulihan Gereja agar Kristus cepat kembali menjemput Pengantin PerempuanNya (GerejaNya). Seperti prkataan sodara Nee di atas tadi “Dengan segala hormat Pak. Aku kuatir apa yang akan terjadi padaku jika aku tidak menaati firman Tuhan.” sebenarnya qta juga sama dngan sodara Nee penuh dngan pertanyaan & keganjalan tentang “Organisasi Gereja” yg qta tempati, namun kadang qta mnyerah dngan keadaan krna sdh bgtu mmbudaya semua kegiatan dlm “Organisasi Gereja” krna saking tuanya, . . .
Semogah qta seperti sodara Nee bukan hanya penuh pertannyaan dan keganjalan tapi mencari tau & melakukannya meski banyak penentang di sekitar qta . . . Thanx Brother Jesus Bless You . . . Amin