Demi memberi integritas lebih pada situs Tukang Review, gw memutuskan untuk memindah blog gw ke Wordpress.
Silahkan nikmati lebih lanjut tulisan-tulisan gw di…
Posted in Web/Tech | No Comments »
Demi memberi integritas lebih pada situs Tukang Review, gw memutuskan untuk memindah blog gw ke Wordpress.
Silahkan nikmati lebih lanjut tulisan-tulisan gw di…
Posted in Web/Tech | No Comments »
Bagian terakhir dari ceritaku ini kembali mengambil setting ke Bandung.
“Huh? Tapi Dennis… bukankah kamu barusan dari Bandung lantas pulang ke Jakarta? Bukankah kamu seharusnya dari Jakarta lalu pulang lagi ke Solo… bukannya ke Bandung?”
Seharusnya memang begitu, tetapi gw teringat bahwa ada satu janjiku untuk bertemu dengan seorang teman yang sudah terlalu lama tertunda.
Gadis itu bernama Lita. Selama di Beijing, dialah teman terdekat gw yang berasal dari Indonesia. Ketika aku terakhir meninggalkan Beijing, Lita is the last familiar face that I see. Kita makan malam bersama di Tour Le Jours, lantas aku mengantar Lita ke apartemennya sebelum kita berpisah.
That was nearly six months ago. (Gosh, sudah selama itu ya gw terhempas di Solo?)
Ketika gw sampai di Bandung dengan teman-teman gw, yang pertama gw lakukan adalah menghubungi Lita. Gw berusaha mencari tahu jadwalnya, dan berharap gw bisa mencari sela untuk memisahkan diri dari para Lembeiers dan menemuinya. Ternyata, jadwalku yang begitu ketat membuatku tidak bisa menemui Lita.
(Buat Lita: Itulah kenapa gw ‘berbohong’ dan mengatakan gw tidak di Bandung. Gw sebenarnya ada di Bandung. Tapi gw merasa benar-benar tidak sopan buat gw untuk berada di kotamu, dan tidak menemuimu, so I better say gw tidak berada di Bandung… there, now you have the real truth)
Anyway, setelah gw merasa urusan gw di Jakarta sudah beres, gw pun meluncur ke Bandung. Kebetulan bibi gw tinggal di Bandung sehingga gw tidak perlu pusing mengenai masalah penginapan dan tetek bengek lainnya. Selama bertamasya ini, gw memang free dari kerjaan - tapi tidak demikian dengan Lita.
Ketika gw menelepon Lita dan mengatakan gw sudah di Bandung, kita langsung membuat janji acara bertemu setelah les Mandarinnya berakhir jam 8 malam di Mal Istana Plaza. Beberapa saat kemudian, Lita kembali meneleponku dan mengatakan kalau ia membatalkan les Mandarinnya (thanks Lita ^^) dan memintaku untuk langsung menuju ke Paris Van Java Mall untuk bertemu di sana seusai ia pulang kerja.
And Lita tak tampak berbeda seperti dia enam bulan yang lalu.
Ketika bertemu lagi dengan Lita, gw seakan terlempar di masa-masa gw di Beijing. Percaya atau tidak, gw akan mengatakan gw sedikit kangen bersama dengan orang yang bisa gw ajak berbicara bahasa Mandarin dengan bebas. Di Solo, mustahil gw bisa berbicara dengan siapapun selain dengan nenek dan guru les gw. Sementara kalau di Jakarta, gw selalu merasa bahwa level Iin dan Felly jauh - jauh di atas gw… (anggap saja ini sebuah teacher-student complex) sehingga gw ga pernah pede untuk ngobrol dengan mereka.
Lita berbeda. Gw sekelas dengan dia (walaupun dia jauh - jauh lebih pintar dari gw, Lita di kelas D adalah satu-satunya anak Indonesia yang bisa masuk dalam posisi 5 besar di tengah anak Korea Jepang, juga gadis yang tanpa mempersiapkan ujian HSK bisa mendapatkan nilai 7) dan itu membuat gw nyaman ngobrol dengan dia. Bahkan seperti pengakuan Lita yang mengejutkan gw “wo haoxiang mei you gen ni yong yinniyu shuo hua” (aku sepertinya ga pernah menggunakan bahasa Indonesia ngobrol dengan kamu). Itu juga yang menjadikan Lita klop denganku saat di Beijing. Walaupun kita berdua orang Indonesia, tapi jarang kita hendak menggunakan bahasa Indo buat ngobrol, tetapi kita berdua saling memacu diri memakai bahasa Mandarin.
Setelah makan malam kita yang lezat di Pancake House, kita mengobrol. Just like that. Kita duduk berdua dan mengobrolkan berbagai macam hal yang tak pernah kesampaian melalui tukar-menukar sms kita. Mengenai pekerjaan, rencana masa depan, sampai teman-teman lama kita di Beijing sana (baik yang sudah lost contact, maupun yang masih contact).
Satu hal yang gw nikmati ketika bersama dengan Lita adalah ia adalah gadis yang bisa gw ajak untuk mengenang waktu ketika aku ada di Beijing. Dia membawa gw ke sebuah swalayan internasional dan menunjukkan padaku beberapa mi instan dari Korea. Melihatku memaksa diri untuk tidak membelinya (karena mi instan Korea itu mahal loh kalau diimpor ke Indonesia. bisa mencapai hampir 10.000 satu bungkusnya), ia malahan membeli hampir 10 bungkus buat dirinya sendiri.
Malam sudah larut ketika kita berdua memutuskan duduk-duduk di depan kafe J.Co. Ketika lagi mengobrolkan nama Mandarin teman-teman kita… (gw lupa nama Mandarin mereka - ingatnya nama Korea mereka) gw ironisnya lupa dengan nama Chinesenya Lita (To Lita: Pssstt… lu ga pernah kasih tahu gw nama Chinese lu!). Geram dengan lupanya gw akan fakta penting tersebut, Lita pun ‘menghukum’ gw dengan menyuruh gw berdiri di tempat dan berputar tiga kali. Well, kendati terlihat seperti tolol karena berputar di depan meja J.Co (untungnya menurut Lita “xian zai yijing yewan, suoyi ren ren dou huijia le… meiyou ren hui kan ni a”).
Yang lebih gawat, menurut Lita itu cuma hukuman percobaan saja, karena hukuman sesungguhnya bakalan menyusul… Lita menyuruh gw menutup mata tanpa boleh melihat apa yang akan ia lakukan kepada gw berikutnya. Gw pun menutup mata. Jantung gw berdebar kencang menunggu apa yang akan Lita lakukan pada gw… Lita memegang tangan gw… lalu…
“hao de… ni keyi kai ni de yangjing le!” cetusnya.
Gw membuka mata gw dan melihat tas plastik berisi mi instan Korea yang tadinya ia beli terikat manis di tangan gw.
“wo… wo bu neng…” (gw… gw ga bisa…)
“ni bu keyi jujue bieren song gei ni de liwu…” (eits, kamu ga boleh nolak orang lain punya pemberian)
(Dialog intinya begitu, detailnya mungkin keliru)
Gw tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Thanks Lita, that’s really sweet of you” kataku sambil tersenyum - membayangkan kelezatan dari Champong, LaMyon yang akan segera kurasakan saat aku memasak mi tersebut di Solo nanti.
Dan bersamaan dengan perpisahan gw dengan Lita, berakhirlah sudah perjalanan panjang gw ke Jakarta - Bandung - Jakarta (lagi) - Bandung (lagi). Gw ga sempat bertemu dengan semua orang, but it was still really fun. Begitu banyaknya teman gw yang tersebar di kedua kota itu sehingga bahkan waktu seminggu pun terasa kurang bagiku untuk menemui mereka semua. I am looking forward to the day I can go to Jakarta and Bandung again!
Posted in Travel | 1 Comment »
But the main reason I love you is that you’re my best friend. You’re the best friend I ever had.
- Marshall Ericsen
Selesai menonton season kedua, gw terkejut menyadari bahwa serial How I Met Your Mother sudah masuk menjadi penantang serial TV terbaik yang pernah kutonton. Buat mereka yang belum pernah menontonnya, berikut sekilas mengenai serial kocak ini.
Ted, Marshall, Lily, Robin, dan Barney adalah lima sahabat karib yang selalu bersama. Tinggal di New York dan selalu hang-out di bar yang sama, How I Met Your Mother mengisahkan mengenai kejadian-kejadian tolol yang terjadi pada kehidupan sehari-hari kelimanya.
Premise yang sederhana dari sitkom inilah yang membuatnya begitu menawan. Ceritanya gampang diikuti dan kelima tokoh utamanya sangat lovable. Kelimanya memiliki ciri khas masing-masing yang memberi warna tersendiri pada show ini.
Tidak seperti serial macam Heroes atau Lost di mana sering ada karakter yang berganti - dan cerita tetap bisa berlanjut tanpanya, saya sulit membayangkan serial ini kehilangan salah satu karakternya. Karena… HIMYM ya… kelima orang ini. Tidak ada Ted yang polos… Robin yang independen… Barney yang ‘awesome’ atau duet Marshall - Lily yang saling mengasihi berarti bukan HIMYM lagi.
Hebatnya kelima aktrisnya juga kompak menjadi sahabat di dalam maupun di luar film!
Untuk sekarang - selain Pushing Daisies (more about that later) - How I Met Your Mother adalah serial yang sangat kurekomendasikan buat para penggemar sitkom!
PS: Don’t you think the words I quote in the beginning of this post is so sweet? I wish that one day I can say that very same words (read: wedding vow) to the girl I will marry… *grin*
PS2: And the opening theme of HIMYM? Might be the best opening TV theme ever.
Posted in Film | No Comments »
Karena sudah ditag oleh Pinkan - here it goes (sorry ya Pink, rada telat nulisnya? Belakangan rada sibuk soalnya).
- PENAMPILAN: Buat gw ga penting cewe itu cakep engga buat orang lain. Yang penting dia manis dan cakep di hadapan gw. Dari semua cewe yang gw sukai di masa lampau, ga pernah semuanya mendapatkan penilaian ‘cakep’ sempurna dari para teman gw. Toh, buat gw mereka tetap cakep. Gw ga suka cewe yang dandannya berlebihan. Dandan itu penting buat cewe - gw tahu (gw aja yang cowo memperhatikan penampilan) - tetapi itu bukan alasan buat seorang cewe berdandan super menor. Buat gw cewe yang berdandan sepantasnya justru bisa menampilkan aura tercantiknya.
- HOBI: Gw pengen dia memiliki hobi yang setidaknya 60% sama dengan gw. Ga harus semuanya sama, supaya gw juga bisa belajar sesuatu yang baru dari dia, dan dia bisa belajar suatu yang baru dari dia. Tapi jangan sampai kita tidak punya kesamaan hobi karena itu berarti apa yang kita sukai secara fundamental sudah berbeda total. For your information; gw suka film, serial TV, komik (manga maupun graphic novel), game, olahraga, politik, dan ekonomi. Tidak sesulit itu buat bisa memiliki kesamaan dengan gw kan?
- SIFAT (1): Gw pengen seorang cewe itu bisa mendengar dan bisa juga berbicara. Gw ga pengen seorang cewe yang super pendiam karena gw bisa stress kalau cuma ngobrol seorang diri dan dia cuma mendengarkan gw. Sebaliknya gw tuh termasuk orang yang rada cerewet sehingga gw ga pengen juga dia ngobrol melulu dan gw cuma menjadi pendengar yang baik. Pengen ada timbal baliknya lah, after all yang namanya pembicaraan kan terjadi dari dua arah, bukan dari satu arah.
- SIFAT (2): Dia harus bisa menerima teman-teman gw dan ga boleh terlalu pencemburu mengingat gw punya banyak teman cewe. Tentu saja kalau gw sudah punya cewe, gw akan tahu diri dan menjaga jarak dengan para teman cewe gw. Gw juga akan mengenalkan mereka secara resmi. Ga dekat dengan mereka ga masalah karena gw sendiri banyak ga klop bahkan dengan pacar para sahabat terdekat gw; tapi pencemburu is a big NO. Sebaliknya, gw juga pengen tahu tentang teman-temannya dan dengan siapa saja dia hangout, baik itu cowo maupun cewe.
- SIFAT (3): Jangan matre. Sesekali makan di rumah makan mewah si boleh saja, tapi kalau tiap hari minta ditraktir di Sushi Tei, siap-siap aja diputus. Kalau sama gw berarti siap makan di Sushi Tei - tetapi juga siap makan di warteg.
- PERNIKAHAN: Gw pengen seorang cewe yang memandang keluarga kita sebagai keluarga kita berdua. Bukan keluarga miliki pihak cewe ataupun pihak cowo. Gw ga pengen kalau misalnya dia berantem nanti dia kabur ke rumah ortunya sambil nangis-nangis. Sebaliknya gw juga ga akan lapor ke ortu gw untuk menekan dia kalau sampai kita ada problem. Apapun problemnya, kita menyelesaikannya di rumah kita sendiri. That’s what it means to have a family (mungkinkah ini terlalu jauh untuk dibicarakan sekarang?)
- TERAKHIR: Gw pengen bisa mengobrolkan apa saja dengan dia tanpa malu atau gengsi. Patokan gw selalu terletak pada empat teman dekat cewe gw yang bisa gw selalu bebas gw ajak ngobrol mengenai apa saja. Cewe gw harus bisa gw percaya sebagaimana gw percaya para teman cewe gw - bahkan mungkin lebih dari keempatnya gw. Gw pengen bisa merasa nyaman ketika berada di sampingnya.
Posted in Life | 4 Comments »
1 Februari 2009
Karena gw bermain Disgaea malam harinya, gw bangun cukup siang di hari Minggu itu. Setelah berhari-hari bersama teman-teman gw, gw memutuskan untuk mengkhususkan hari ini buat gw. Planning gw sederhana. Menuju ke rumah Sasa untuk mengambil DVD gw, ke rumah Mauri untuk laptop gw, lalu menonton sisa film apapun di bioskop hari itu. It’s been a while gw engga pernah berjalan-jalan sendiri. Selama di Solo gw selalu dikelilingi orang, sementara di Jakarta selama ini pun gw berada di tengah teman-teman gw terus. And I enjoy it. I really do. Bagaimanapun juga manusia adalah makhluk pribadi dan sosial, dan gw pengen berjalan-jalan ke suatu tempat di mana ga ada seorangpun mengenal gw. Jalan-jalan sendiri, have fun alone.
Tetapi sekali lagi rencana gw berantakan.
Ketika gw sampai di rumah Sasa, gw menyadari bahwa DVD yang dititipkan Sasa kepada gw (di saat itu Sasa sudah berada di Singapore) adalah DVD yang dia beli. Semua DVD keren yang gw beli tertukar dengan DVD-DVD cupunya Sasa (sorry Sa, it’s a well-known fact that your movie choices usually sucks - terbukti dengan bagaimana kamu tidak menyukai The Dark Knight. Ha ha ha). Gara-gara itu, rencana gw pun berubah total. Gw terpaksa pergi lagi ke Mangga Dua dan membeli ulang semua DVD yang sudah gw beli. Ga bisa menyalahkan Sasa sih, karena gw sendirilah yang menitipkan DVD itu di rumahnya. Akhirnya setelah mengambil laptop dari rumah Mauri, gw berangkat ke Mangga Dua untuk membeli DVD-DVD lagi.
Usai dari Mangga Dua, gw pergi ke Pluit Junction (sekalian jalan pulang karena naik taksi Blue Bird ke sana-sini sudah memakan banyak ongkos). Karena gw udah menonton Yes Man dan Red Cliff II, opsi film gw menjadi terbatas di sana. Ada Doomsday dan Bride Wars. Gw memutuskan buat nonton Bride Wars… and that was the best movie I watched among the three.
Kisahnya sederhana sih. Dua sahabat baik yang tak terpisahkan: Emma dan Liv dilamar oleh tunangan mereka di hari yang sama. Mereka yang selalu memimpikan pernikahan impian di hari yang sama. Bisa ditebak kalau keduanya menjadi bertengkar hebat. Tekanan pernikahan lantas meretakkan persahabatan mereka. Gw menangis ketika menonton film ini karena gw merasa bisa relate ke film ini.
Melihat bagaimana Emma dan Liv tanpa sadar saling menyakiti satu sama lain; seakan mengingatkan kita bagaimana terkadang kita juga tanpa sadar melakukan hal yang menyakiti sahabat lu. Mungkin kita sendiri engga ingin menyakitinya, tetapi karena satu dan lain hal, kita menyakitinya. Dan tepat ketika lu hampir kehilangan persahabatan itu, lu baru sadar betapa berartinya sesosok sahabat itu untuk lu. Seperti yang dikutip dalam akhir film Bride Wars (which will stand as one of my favorite movie quote):
“Sometimes in life there really are bonds formed that can never be broken. Sometimes you really can find that one person who will stand by you no matter what. Maybe you’ll find it in a spouse and celebrate it with your dream wedding, but theres also the chance that the one person you can count on for a lifetime, the one person who knows you sometimes better than you know yourself is the same person who’s been standing beside you all along.”
Seakan kata ‘pernikahan’ dan ‘persahabatan’ belum hendak meninggalkan gw. Gw kembali menjumpai kedua tema ini ketika menonton Smallville malam harinya.
Siapapun yang pernah menonton Smallville pasti tahu kisah persahabatan sejati dari Clark dan Chloe. Memang sih awalnya itu Chloe yang punya crush kepada Clark, tapi mari faktanya adalah semenjak season pertama berakhir, Chloe dan Clark tidak pernah lagi memiliki hubungan romantis. Mereka selalu ditakdirkan menjadi sahabat - dan menjadi bukti tulen bahwa cowo dan cewe pun bisa menjadi sahabat.
Chloe bakalan menikah di season delapan, tetapi Brainiac (alien komputer) mulai ‘memakan’ otak Chloe dan menghapus memori demi memorinya. Gw rasa adalah hal yang sangat manis ketika pada akhirnya Chloe bahkan kehilangan ingatannya akan Jimmy terlebih dahulu sebelum ia kehilangan ingatannya akan Clark. Beberapa perdebatan di forum mengatakan kalau itu artinya Chloe lebih mencintai Clark ketimbang Jimmy. Betapa salahnya!
Menurutku artinya sebenarnya sederhana; walaupun Chloe mencintai Jimmy, tapi orang yang paling dekat dengannya adalah Clark. It’s that simple. Apa bisa disalahkan? Clark dan Chloe bersahabat semenjak mereka masih SD, sementara Jimmy baru ia temui ketika ia kuliah menginjak tahun ketiga (or kedua, gw agak lupa).
Bukan hanya Chloe yang membuat pengorbanan di sini tetapi juga Clark. Ketika Clark menyadari bahwa satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan Chloe adalah membuatnya lupa bahwa Clark memiliki kekuatan super, Clark merelakannya. Clark bahkan mengatakan hal yang paling keren yang pernah kudengar (at least he’s being a Superman):
“You’ve been the best friend and ally I could have had, Chloe. The truth is, you’ve saved me more than I ever could have saved you.”
Sayangnya Chloe pingsan ketika Clark lagi mengatakan hal itu. Meh…
Posted in Television, Travel | No Comments »
31 January 2009
Rencana gw pada hari Sabtu itu sebenarnya super simple. Gw datang ke rumah Angel dan mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek kepada orang tuanya, lantas gw pergi menonton film layar lebar berkualitas di Jakarta setelah di Solo melulu disodori dengan film yang berjudul depan “Pocong” atau “Kuntilanak” (more on that on the next story arc). Anyway, rencananya adalah sepulang gw menonton, gw bakalan pergi ke rumah Sasa dan Mauri untuk mengambil DVD yang gw titipkan Sasa dan laptop yang gw pinjamkan Mauri.
Tetapi rencana berubah total sesampainya gw ke rumah Angel.
“Nis, lu mau ngapain emangnya abis ini?”
“Mau nonton lun…”
“Terus gw? Ikut gak?”
“He..? Lu mau ikut - ikut aja…”
“Tapi ga mau… Muka gw lagi jelek ni…” (karena abis dari dokter kulit)
“Ohh ya uda…”
“Eee… kok gitu sih? Kan gw mau ikut!”
“Lo… ya ikut aja?”
“Tapi lagi jelek ni…”
*ulangi percakapan di atas diselingi “gimana dong?” dan “beneran gapapa”, “buruan putusin” selama sekitar satu jam*
Akhirnya, setelah dipaksa oleh nyokapnya, Angel setuju ikut dengan gw. Tujuan kita adalah menonton Red Cliff II yang tidak sempat kita tonton ketika pertama kali bertemu dulu.
Review lengkap mengenai Red Cliff II sudah gw tuliskan di situsku yang lain kalau kalian mau membacanya - sekedar untuk merefleksikan pendapat gw mengenai film ini… gw tahu film ini tidak tepat seratus persen berdasarkan sejarah, bahkan banyak banget yang melenceng kalau kamu pembaca Sam Kok sejati. Kendati begitu, apa benar bisa menyalahkan John Woo? Sam Kok memiliki cerita yang begitu kaya di dalamnya. Kalau kalian pikir menceritakan Lord of the Rings Saga (yang hanya tiga novel) dalam trilogi film begitu sulit - bayangkan betapa sulitnya mentranslasikan Sam Kok (yang terdiri dari entah berapa novel) hanya dalam dua bagian film. Lepas dari segala kekurangannya, Red Cliff II tetap sebuah epik yang akan sulit ditandingi oleh film-film Asia lain hingga bertahun-tahun kemudian.
Setelah menonton selesai, gw meminta Angel buat menemani gw pergi ke Pluit Junction guna menonton Yes Man. Saat itu kita berdua berada di tengah dilema. Di Emporium Pluit yang baru ada film Bride Wars tetapi film Yes Man ada di Pluit Junction yang tepat berada di seberangnya. Gw sendiri lebih tertarik menonton film Yes Man ketimbang Bride Wars, sementara Angel sendiri walau diam-diam kelihatannya lebih mendambakan Bride Wars. Toh, pada akhirnya Angel mengalah dan ikut gw menonton Yes Man di Pluit Junction. Dia ketakutan menyebrang jalan di Jakarta (entah apa semua cewe Jakarta seperti ini?). Well, gw yang sekarang karena sudah terbiasa menyebrangkan wanita di Beijing sontak saja menggandeng tangannya dan membawa dia menyeberangi jalan (yang ada lampu merahnya - so it’s not THAT hard really).
Mengenai Yes Man, gw perlu jujur mengatakan kalau film ini mengecewakan buat gw. Gw memiliki ekspektasi tinggi setelah Didit begitu merekomendasikan film ini buat gw. To be honest, it’s not a bad movie… but it’s not a good movie either. Dan karena gw engga mendapatkan sesuatu pelajaran apapun yang bisa gw petik dari dalamnya… gw ga akan banyak membicarakan mengenai film ini.
Although I didn’t enjoy Yes Man, I did enjoy having Angel to accompany me that whole day. Ah, there’s always a reason why Angel is also one of my best friend. Di samping dia gw merasa bisa bebas mengobrolkan apa saja. Kita sering mengobrolkan hal sesepele “seberapa gantengnya Dennis?” atau “bagaimana senyum Dennis bisa memikat para wanita?” sampai hal yang lebih serius semacam “ke mana kita akan berada lima tahun lagi?” dan “apa yang hendak kau perbuat untuk menjadikan bisnismu lebih maju?“. Kalau suatu hari nanti dia dapat pacar (and I know she will - since she’s a great woman), gw tahu gw bakalan merasa kehilangan sahabat yang paling sering gw ajak curhat (karena dia selalu online tiap hari di MSN, praktis gw ga ngobrol dengan dia hanya di hari Sabtu maupun Minggu).
Nah, setelah selesai nonton Yes Man, kita berdua kaget menyadari di Pluit Junction tidak ada taksi. Walhasil, kita harus serobot-serobotan dengan orang untuk naik Blue Bird Taksi yang muncul sekitar setengah jam sekali. Walhasil, kita yang keluar jam 10.00 kurang baru mendapatkan taksi pada jam 10.45, hampir sejam setelah kita keluar. Itupun diiringi dengan gw bertengkar dengan seorang tante kurang ajar. Karena dia membawa seorang nenek yang usia lanjut (yang kemungkinan besar ibu si tante itu), ia mengira ia bisa mendapatkan taksi itu dan membiarkan kita berdua menunggu setengah jam lagi. Tough luck karena gw langsung menyerobot taksi itu sebelum ia bergerak (kita memang datang duluan).
Tante itu berusaha menghardik kita tapi gw menghardiknya balik. Lantas gw berkata kepada Angel dengan suara keras (dan secara tidak langsung memperingatkan tante itu) “kalau dia nyolot macam-macam lagi, gw ga peduli mukanya gw tonjok“. And I mean it. Beruntung si tante tidak berniat membuktikan gw serius atau tidak dan mundur teratur, membiarkan kita mendapatkan taksi itu dulu. Gw dan Angel ngakak sepanjang perjalanan. Sebelum gw mendapatkan komentar mengenai “Dennis kok kurang ajar dengan orang tua”, ijinkan gw menampik dengan dua alasan: satu, gw datang duluan, dan dua, di Jakarta kita tidak kenal usia - siapapun yang menunjukkan kelemahan - dia yang kalah.
Gara-gara kemalaman, walhasil gw tidak sempat ke rumah Sasa maupun Mauri dan menunda kegiatan itu hingga besok. It’s okay though. Today’s been fun!
Posted in Travel | 3 Comments »
Gw sering mendeklarasikan diri gw sebagai Man of Science. Seorang yang lebih mengandalkan ilmu pengetahuan dan logika ketimbang iman dan kepercayaan terhadap suatu hal. Tetapi gw tidak pernah menjelaskan lebih lanjut kenapa. Semula gw sendiri tidak terlalu memikirkan mengenai hal ini. Gw selalu merasa bahwa gw bukan seorang Man of Faith - tanpa alasan yang jelas. Toh, semakin banyak orang menanyakan hal ini dan mencibir, semakin gw berusaha mencari jawabannya.
Kenapa?
Apa yang membuat gw - yang dulunya seorang Man of Faith - berubah menjadi seorang Man of Science?
What changed me?
Dan gw menemukan jawabannya dalam tiga hal berikut:
(Sebelum membaca lebih lanjut - tolong diperhatikan bahwa apa yang gw tulis ini semata-mata hanya merupakan pemikiran gw semata. Gw tidak ingin menyerang kalangan tertentu)
1. Karena sering mempertanyakan kebenaran
Gw pernah memberi contoh bahwa sering persepsi agama selalu dianggap benar - walau belum tentu demikian adanya - seperti teori Copernicus yang menyatakan bahwa matahari (dan bukannya bumi) yang merupakan pusat tata surya kita. Copernicus disesah dan Galilei selaku muridnya diasingkan. Tapi sekarang kita tahu kenyataan siapa yang benar bukan?
Contoh kedua adalah Nuh. Siapapun tahu cerita bahtera Nuh yang fenomenal. Nuh selalu sinonim dengan bahtera yang menyelamatkan dunia dan spesiesnya dari banjir amarah sang Khalik. Tapi berapa banyak yang tahu bahwa dua ratus tahun yang lalu, Nuh juga identik dengan negro dan perbudakan? Karena kutukan Nuh kepada seorang anak yang melihatnya telanjang (Ham / Kanaan), gereja dulu mengesahkan bahwa perbudakan bukan masalah (http://en.wikipedia.org/wiki/Curse_of_Ham). Bangsa negro dianggap sebagai keturunan Ham. Keturunan yang dikutuk. Keturunan yang layak untuk diperbudak. Saya rasa tidak banyak orang yang menyebut itu lagi sekarang eh?
Terakhir adalah persepsi yang berbeda dari setiap agama. Engga usah setiap agama deh. Bahkan satu agama saja kadang bisa memiliki berbagai persepsi. Ambil contoh agama Nasrani yang merupakan agama yang paling kukenal. Saya pernah pergi lebih dari lima jenis gereja sepanjang hidup saya, dan setiap kali mereka mendeskripsikan “kerajaan seribu tahun” mereka masing-masing memiliki deskripsi yang berbeda-beda! Hebatnya, semua mengklaim bahwa apa yang mereka deskripsikan benar. Kalau semua pihak mengklaim benar - lantas mana yang benar?
Pernah suatu hari gw dibuat jengkel dengan pernyataan seperti ini oleh temanku: “Ehhh… mitologi itu aneh-aneh ya? Masa ya ada dunia dan kehidupan ini diciptakan dari pohon kehidupan (mengacu pada mitologi Norse Yggdrasil)?”. Hampir saya membalas mengatakan “Wah, sana sendiri percaya mitologi yang menyatakan bahwa seluruh jagad raya terbentuk oleh kata-kata dalam waktu tujuh hari. Kurasa sama anehnya tuh?” sebelum saya telan egoku untuk tidak memancing pertikaian yang tidak perlu.
2. Agama membuat banyak pihak menjadi bertikai
Hati gw miris ketika melihat film Slumdog Millionaire. Ibunda Jamal sang tokoh utama mendadak begitu saja dihajar karena agamanya Islam (sebuah minoritas di India yang mayoritasnya Hindu). Jamal berontak dan bertanya pada polisi yang menginterogasinya ketika ditanya mengenai agamanya “Apabila bukan karena Rama maupun Allah, ibuku tentunya masih hidup“.
Dan kisah pilu itu bukan terjadi hanya di India semata. Kita yang tinggal di Indonesia tentu tahu bahwa dulu para umat Nasrani ketakutan beribadah di gereja karena ancaman bom di gereja.
Palestina dan Israel yang terus bertikai menunjukkan kedamaian antara umat Yahudi dan Muslim masih begitu jauh dari tercapai.
Bahkan di negara maju semacam Korea Selatan pun baru-baru ini terpicu kontroversi ketika sang presiden yang beragama Kristen mengatakan bahwa ia akan menjadikan Seoul sebagai Yerusalemnya Asia. Ketika para biksu Buddha berkumpul dan mendemo sang presiden, seorang menteri menambah minyak di atas api dengan menyebut para biksu tersebut sebagai “kumpulan setan”. (http://www.iht.com/articles/ap/2008/08/27/asia/AS-SKorea-Buddhist-Protest.php)
Tenggang rasa antar umat beragama? Bagaimana hal itu bisa tercapai apabila tiap agama memberi doktrin bahwa ajaran merekalah yang benar sementara yang lain salah? Memberi doktrin bahwa hanya mereka yang menganut kepercayaan tertentu atau menyembah dewa tertentulah yang bakal mencapai surga / nirwana / whatever sementara yang lain bakal masuk netherworld / neraka / whatever?
3. Science never stop learning
Banyak orang mengatakan padaku bahwa ilmu pengetahuan tidak sempurna. Bahwa ilmu pegetahuan itu cetek. Bahwa sang Khalik terlalu luas, besar, dan sempurna untuk dimengerti oleh otak para manusia yang begitu kecil dan tidak sempurna ini. Benar. Ilmu pengetahuan mungkin tidak ada apa-apanya. Benar. Ilmu pengetahuan jauh dari sempurna.
Tapi ilmu pengetahuan memang tidak pernah mengklaim dirinya sempurna dan tahu segalanya bukan?
Justru karena ketidak-tahuan itulah manusia bisa maju. Seratus tahun lalu, manusia belajar pertama kali menantang gravitasi dengan menciptakan pesawat terbang. Sekarang, manusia berhasil memetakan hampir seluruh bumi, menjejakkan kaki di bulan, membuat begitu banyak penemuan di luar angkasa sana.
Tanpa ilmu pengetahuan yang memadai, TBC mungkin masih sebuah penyakit mematikan sampai sekarang. Tanpa ilmu pengetahuan yang memadai, orang mungkin masih kekurangan bahan pangan - bahkan meninggal ketika musim dingin tiba.
Gw ingat pembicaraan dua karakter game Ronyx dan Ilia di game Star Ocean bahwa di sebuah planet terbelakang orang ketakutan akan sosok monster jahat di angkasa. Monster itu muncul secara mendadak, menyambar dan menghanguskan siapapun. Lebih ngeri lagi, monster itu begitu cepat. Tidak satupun orang bisa lolos dari sergapannya apabila monster itu marah. Satu-satunya harapan orang untuk meloloskan diri darinya adalah dengan cepat-cepat berlindung ketika mendengar raungan kerasnya…
Bisakah kalian tebak apa itu? Ya, makhluk yang begitu ditakuti tidak lain tidak bukan adalah petir.
Sekali lagi. Science tidak sempurna. Tapi Science juga tidak pernah berhenti belajar. And I think, that’s what it means to be human.
Gw pengen mengingatkan sekali lagi kalau apa yang gw tulis di sini bukan berarti gw mendiskreditkan kalian yang adalah Man of Faith. Apabila kalian adalah Man of Faith, that’s great for you. Hanya saja, jangan semata-mata karena kalian memilih jalur itu, kalian merasa bahwa semua orang harus melalui dan memilih jalur yang sama seperti kalian.
Posted in Life, Religion | 2 Comments »
30 January 2009
Ketika gw melek di pagi hari, gw melihat Ko Dapis tengah berusaha mematikan hapeku yang dinyalakan alarmnya. Setengah sadar, gw mematikan alarm tersebut dan kembali terlelap. Gw benar-benar sadar beberapa jam kemudian ketika pintu hotel gw diketuk dengan keras, kasar, dan sama sekali tidak berperi-kemanusiaan. Tentu saja gw yang sudah biasa dibangunkan dengan cara seperti ini semenjak kuliah dulu sudah hafal dengan sang pengetuk.
Ketika gw membuka pintu dan melihat Sasa cengar-cengir di depan pintu, gw sudah bersiap menutup pintu dan kembali tidur. Toh, melihat Ko Dapis yang ada di samping Sasa, saya ga enak hati menjadikan Ko Dapis ‘korban’. Walhasil, gw pun bangun dan mandi. Menyiapkan diri untuk makan breakfast.
Sekali lagi sekilas info; makanan di sana super duper enak. Kupon makanan dua kamar kita hanya untuk empat orang dan keempat orang yang beruntung itu adalah ketiga cowo dan Sasa. Para cewe lainnya memilih untuk tidur ataupun bersiap diri. Well, ruginya mereka sih. Ketika gw melihat berbagai jenis makanan yang disajikan (gw masih ingat ada nasi goreng, bakmi goreng, pancake, berbagai kudapan kecil, tawaran teh dan kopi, omelet, jus segar, dan… argghhh… just thinking about it again makes me hungry!).
Gw yang biasanya menahan diri demi diet gw lupa daratan. Gw melahap berbagai makanan di sana sampai enam kali putaran bolak-balik. Kebetulan breakfast ditutup jam 10 (dan kita mulai jam 9.25 makannya) sehingga ketika gw mengambil untuk kali keenam, sang waiter menawari kita untuk melakukan penambahan terakhir sebelum makanan ditutup. Sekilas keempat dari kita saling berpandangan, lalu gw terkekeh mengatakan “gara-gara gw makan banyak nih makanya diusir secara ga resmi”.
Usai makan, para gadis pun sudah siap. Saatnya bagi kita untuk check-out dari hotel. Kita pun meluncur ke tempat Harry. Hari ini, kita tidak lagi bermain-main dengan siberian huskeynya (mungkin para cewe takut dengan bau huskeynya? Gw pribadi sih agak seram dengan para huskey yang suka mengendus - maaf - bagian kemaluan para pria. Walau kata Harry mereka semua jinak-jinak kalau salah-salah menggigit gimana? Hi hi hi… jangan dibayangkan ya?)
Semula kita berencana mengunjungi Chandra yang konon terkapar setelah mengantar kita semua kemarin malam (jelas saja, dia baru sampai di rumah jam 3 pagi dan langsung kena serangan sakit perut). But what a great and tough guy Chandra is!!! Kendati dia sudah sakit begitu, dia masih bangkit dan datang untuk menemui kita. Dan lebih dari itu, Chandra bahkan siap untuk mengantar-antar kita. Walau begitu, karena sakit, kali ini ia tidak lagi bisa menjadi supir (tugas itu ia delegasikan ke adiknya Eli) sementara dia ikut jadi penumpang saja.
Hujan lebat yang mengguyur Bandung tidak menghentikan para cewe-cewe untuk berbelanja. Belanjaan mereka pun macam-macam banyaknya. Mulai dari oleh-oleh berbagai jenis (serius, banyak banget! Bayangkan, mobil kita di bagasinya full atas bawah dengan makanan oleh-oleh dan baju). Para gadis seakan tak kenal lelah memburu makanan, mereka masih juga memburu berbagai baju di berbagai Factory Outlet. Setelah kemarin kita mendatangi Rumah Mode, kali ini tujuannya adalah Summit dan Heritage.
Sementara para gadis beli-beli dengan sibuk, para cowo main capsa di mobil. Malahan ketika beberapa cowo turut sibuk berbelanja baju, gw dan Harry hanya duduk di depan FO sambil bernostalgia. Membicarakan masa-masa di mana kita dulu masih berkuliah. Di mana gw bersama Ferdy, Selamat, Sano, pernah singgah ke Bandung karena menemani Tony beli pisau. Pernah juga gw ke sana bersama Dodik dan Bram karena mau menyekap dan menculik Harry untuk dibawa ke Jakarta. There’s so many memories between me, Bandung, and Harry.
Auch… gw punya feeling para piranha ga terima…
Perburuan oleh-oleh dan baju akhirnya berakhir juga. Kita pun singgah di kafe untuk snack (anak-anak masih kenyang setelah makan siang, dan gw juga masih kenyang walaupun skip makan siang). Gelar judi capsa kembali dibuka untuk para pria, sementara para cewe sibuk arisan di belakang. Apa ini gambaran masa depan kehidupan berkeluarga kita ya?
Ada pertemuan, pasti ada juga perpisahan. Waktu di mana kita berpisah pun tiba. Bagi kebanyakan lembeiers itu hanya perpisahan sementara. Ko Dapis, Sasa, Mauri, Harry, Maria, dkk semua tinggal di Singapore. Hanya dua orang saja yang tidak tinggal di sana. Gw dan Devin. Walaupun perpisahan itu terasa berat buat gw, gw berusaha menghibur diri bahwa setidaknya gw selalu bisa bertemu dengan mereka via MSN dan melihat update kabar mereka via Facebook. Untuk Devin: gw tahu perpisahan ini juga pasti berat banget buat lu. Jangan sedih ya vin… Kalian selalu bisa ketemu lagi kok kalau kamu ke Singapore.
Perjalanan pulang terisi dengan percakapan filosofis pernikahan antara gw dan Sasa. Gw sempat juga menyinggung salah satu isu hubungan gw dengan Mira - dan kenapa gw hingga saat ini belum mau berkomitmen (hal ini entar akan kubahas lebih panjang setelah story arc perjalanan Jakarta Bandung selesai). Pembicaraan ini mengangkat topik yang lebih serius; ironis juga kalau dipikir-pikir; karena gw sama sekali belum punya cewe. Kenapa pula gw harus berpikir soal pernikahan?
Setelah sampai ke rumah dan membuat janji dengan Angel untuk bertemu besok, gw tidur dengan hati yang senang. I guess once someone is a lembeiers, that person will be a lembeiers for life. Terbukti gw, Devin, Icha, dan banyak lagi yang dulu pernah tergabung sebagai Lembeiers masih mempertahankan ikatan yang erat dengan genglembei walau kita sudah tidak lagi ada di Singapore.
Posted in Travel | No Comments »
5. Yoon Eun Hye

Si gadis Korea manis yang bermain dalam Coffee Prince dan Goong (Princess Hours) ini sudah menarik perhatianku sejak hadir dengan image imut dalam girl band Baby VOX. Setelah Baby VOX bubar dan Yoon Eun Hye bersolo karir, ternyata karirnya makin menanjak dan makin banyak orang mengenal si imut ini.
4. Ayaka Komatsu

Aku pertama kali mengenalnya semenjak menontonnya sebagai Sailor Venus dalam adaptasi anime Sailor Moon ke live-action. Semenjak itu gw ga pernah absen mengikuti sepak terjangnya. Beruntung, Ayaka ini memang gadis yang cukup aktif ikut pemotretan (saya langsung mendownload semua Photobook yang ia edarkan). Oh ya, ada yang bertanya kepadaku kenapa suka dengan Ayaka yang giginya sedikit aneh. Well - sebut ini fetishku, tetapi gadis-gadis yang kusukai biasanya memiliki ciri kahas gigi yang sedikit berantakan.
3. Leah Dizon

Jauh sebelum Leah Donna Dizon dikenal seluruh dunia karena menjadi supermodel campuran Filipina - Perancis - Amerika - China di Jepang, ia sudah kukenal lebih dahulu sebagai race girl yang sangat ngetop. Gw selalu menyukai Leah yang tampil imut ketimbang Leah yang sexy (seperti foto yang kumasukkan di sini). Mengenai berita hamil dan segera menikahnya dia, inilah petikan dialogku dengan temanku.
“Eh, kamu tau ga teman kita si A udah hamil dan nikah?”
“Parah banget dia MBA ya? Kasian tuh cowonya ngehamilin cewe sejelek dia”
“Eh, ngomong-ngomong, Leah Dizon juga MBA lo!”
(hening sejenak)
“Keparat, beruntung banget itu cowo bisa ngehamilin cewe kaya Leah”
2. Hwang Mi Hee

Saking populernya dia di Korea (saat ini dia model race girl ketiga paling populer di sana), ia memiliki bejibun foto yang bertebaran di internet (dan juga memiliki situs fans sendiri). Kalau pernah melihat animasinya yang bertebaran di internet, Hwang Mi Hee memang salah seorang race girl yang hangat bersahabat, sekaligus suka mengeluarkan tampang yang imut dan merajuk. Heran ya? Kalau cewe-cewe teman gw di Indonesia merajuk, gw bawaannya jengkel dan pengen membentak mereka “Jangan cengeng!” sedangkan kalau cewe Korea merajuk, bawaan gw adalah “Aihhh… manis sekali… cup cup, jangan menangis sayang…” (*dihajar dan disembelih semua cewe Indonesia*)
1. Nozomi Sasaki

Selain Mi Hee, model lain yang fotonya gw koleksi ya Nozomi Sasaki ini. Saya tidak punya banyak alasan menyukai dia. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama.
XOXO, Nozomi… I luph u…
Sebuah pernyataan dari teman gw yang tinggal di Jepang bahwa “cewe seperti Nozomi ini banyak banget di Jepang!” membuat gw kasihan kepada beberapa cewe Jepang jelek yang dulu kutemui di Beijing. Pantas saja mereka tidak punya pacar - mana mau orang pacaran dengan mereka kalau saingan mereka seHOT Nozomi Sasaki.
Posted in Fashion | 6 Comments »
29 Januari 2009
Demi menyelamatkan kita dari bencana kelaparan, ketiga tour guide kita membawa kita untuk terlebih dahulu mampir ke sebuah plaza di Bandung. Yang bikin gw merasa benar-benar ga enak adalah gw semula ga nyadar kalau kita semua makannya bagi-bagi. Dengan semangat 45 gw pesan makanan sendiri, nambah makanan sendiri lagi. Gileee… begitu sadar belakangnya kita bayarnya bareng semua, tinggallah muka gw merah padam menahan malu. Ketahuan deh Dennis itu orangnya rakus (emangnya dulu Dennis ga rakus ya?)
Setelah selesai dari makan-makan (dan bertemu Indri), kita dibawa menuju tempat kita beristirahat malam itu. Hotel GH Universal. Hotel ini besar, megah, dan tampil berbeda dengan hotel-hotel lainnya. Sebagai hotel bintang lima, dia didesign dengan gaya Victoria kuno yang elegan dan klasik. Kita semua dibuat terkesima oleh hotel ini (sampai Nye-nye berulang kali mengatakan “Gila Nis… konsepnya matang banget“). Melihat kamar-kamar kita, para gadis langsung berebutan menyatakan mereka ingin ‘merebut’ dan memasukkan Harry ke dalam kamar mereka. Menurut Harry sendiri ketika curhat dengan gw berdua, dia menyatakan para gadis itu seperti piranha-piranha. Demikian cuplikan analogi menurut Harry.
“Loh Har, maksudnya apa?”
“Gini Nis… Piranha itu kalau satu dua engga berbahaya. Mereka engga langsung menggigit… Tetapi kalau sudah mereka berkumpul… nah di sanalah berbahayanya… Begitu masuk, keluar-keluar tinggal tengkorak!”
Entah kenapa yang gw pikirkan saat itu mirip dengan film horror. Andaikata Harry dimasukkan ke dalam kamar para gadis, beberapa saat kemudian dengan pakaian terkoyak-koyak ia berusaha melarikan diri keluar, lantas ada tangan-tangan wanita dari kegelapan terkekeh-kekeh dan menyeret Harry masuk ke dalam kamar kembali. Kita para cowo hanya bisa mengelus dada. Kasihan terhadap nasib Harry.
Err… anyway, di dalam kamar kita seharusnya beristirahat untuk memulihkan fisik kita. Maklum, malam bagi kita masih panjang. Kenapa saya katakan ’seharusnya’? Karena pada kenyataannya, apa yang kita lakukan begitu masuk kamar adalah… menggelar Capsa! Baru bermain capsa beberapa ronde saja, para gadis ribut memanggili kita untuk makan malam. Makan malam yang lezat di Restoran Sunda menjadi kenangan tersendiri - khususnya bagi Sasa yang pertama kali merasakan berbagai keunikan khas Sunda.
Apakah santap malam kita berakhir di sana? Salah besar. Setelahnya, kita langsung menuju tempat nyemil makan Serabi dan Pisang / Roti Panggang / Bakar. Perhatian buat orang Solo, kalau kalian makan Roti Pisang yang didaulat enak - you’ve been punked. Tidak ada roti / pisang yang lebih lezat selain ditaburi dengan susu, kismis, coklat, dan hemmm… yummy! Sementara di Solo? Yang kamu dapat adalah roti dipanggang di Microwave dan diolesi selai / mentega. Dude, kita ga perlu ke restoran buat makan kaya gituan, itu sih makanan tiap hari tinggal bikin sendiri.
Perjalanan makan kita melengkapi triloginya setelah kita mampir ke Kampung Daun (that’s right. Kita makan TIGA kali berturut-turut). Di tempat ini gw yang udah kekenyangan memutuskan untuk engga makan lagi. Benar-benar udah ga kuat rasanya mau makan apapun juga. Gw dan Maria hanya duduk melihat anak-anak masih makan berbagai minuman penghangat badan (Badred? Bandreg? What’s that called again?).
Sudah mendekati pukul 11 dan prosesi makan-makan kita sudah selesai. Hujan gerimis yang semenjak sore turun masih juga mengguyur kota Bandung. Normally, kita akan pulang ke hotel dan beristirahat untuk berjalan-jalan kembali keesokan harinya. Not the Lembeiers; there’s no such thing as dull moments with them. Kita langsung berangkat ke Gloria Air Panas.
Bandung memang terkenal dengan Ciater, hanya saja perjalanan ke sana terasa terlalu jauh, dan airnya juga terlalu panas. Sebaliknya, ketika kita sampai ke Gloria (gw sebelumnya pernah ke sini juga bersama adik-adik keluarga gw), air panas yang bercampur dengan air hujan menghasilkan campuran kehangatan yang pas untuk badan kita. Ketika gw membuka baju dan melihat perut gw sendiri; gw merasa sedih dengan perut dan badan gw yang masih buncit. Nampaknya, gw memang perlu melipat-gandakan sit-up gw.
Semula, gw kira Harry pasti ‘habis’ di kolam renang. Bukankah dalam air adalah momen yang paling tepat buat para piranha menyantapnya? Ehh, tak dinyana, ternyata para piranha tidak langsung melahap dia lo. Kita duduk-duduk, berenang-renang sejenak, tanpa sengaja menyaksikan Ely terpeleset dan jatuh, minum teh botol, sebelum petugas menyatakan bahwa “kita seharusnya tutup jam 12, dan tinggal kalian orang-orang yang tersisa…” pada jam 12.30. Kita pun berkemas dan pulang.
Karena kamar supir… maksudku kamar cowo sangat kecil, terpaksa para tour guide kita engga bisa menginap di sini. Sungguh sedih karena kita sebenarnya ingin Indri, Chandra, Ely, dan Harry menginap bersama kita. Toh, tak lama setelah kita pulang dan mandi, segera kita semua tertidur. Sebelum gw terbuai ke alam mimpi, ko Dapis bertanya apakah aku hendak ikut bersama Sasa dan dia memetiki strawberry pagi hari?
Err… no, I think I’ll pass…
Zzzz……..
Posted in Travel | 5 Comments »